11 Maret 2012

Saya Ingin Petualangan !


Kala remaja cita-cita saya sederhana, seperti remaja-remaja kebanyakan. Lepas SMA, kuliah di fakultas teknik ternama, diwisuda, kemudian bekerja di perusahaan-perusahaan swasta yang bonafit. Perusahaan minyak multinasional misalnya. Tak jarang juga saya mempertimbangkan untuk menjadi seorang programmer, yang tak perlu sering-sering pergi ke kantor. Cukup diam di rumah, duduk di hadapan komputer sembari memainkan tuts-tuts keyboard, meramu ribuan baris program.

Bercinta dengan komputer [sumber]

Cita-cita saya sangat sederhana. Memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang besar. Tinggal di kota besar dengan berbagai fasilitas kesenangan dan kemudahan yang tersedia: mall, hotel, tempat hiburan, taman bermain, bioskop, teater, jalan tol, hingga ATM. Mapan secara finansial, lalu menikah dengan wanita idaman. Tinggal bersama dalam sebuah apartemen di pusat kota, membangun  sebuah keluarga bahagia-berencana. Tua bersama sang istri idaman, merawat anak-anaknya dalam sebuah apartemen yang mewah. Sesekali bertamasya bersama ke Bali, Singapura, atau Eropa. Bahagia bukan?


Ide-ide untuk menjelajah hutan, tinggal di pulau-pulau terpencil, mengigil di puncak gemunung, berkendara melintasi padang savana, ataupun menyelam di antara tebing-tebing karang, kala itu tak pernah terlintas sedikitpun. Saya hanya ingin hidup yang nyaman nan makmur, dengan saluran televisi berbayar, internet berkecepatan tinggi, pendingin ruangan, kasur pegas berlapis bulu angsa, candle light dinner, mobil sedan teranyar ber-cc besar, serta kemeja armani.

Namun kini semua itu berubah. Saya tak ingin bekerja ala 'kantoran', pergi jam 7 pagi pulang jam 4 sore. Duduk manis di depan layar komputer, sembari digelitiki udara dingin dari AC. Saya tak ingin rutinitas, duduk empuk di atas kursi putar, menganalisa angka-angka di atas kertas, sambil sesekali mendengar decit gerak mesin fotokopi yang menyebalkan. Saya tak ingin terjebak macet dalam mobil sedan ber-cc besar, candle light dinner bersama istri di resto terkenal, untuk kemudian pulang ke apartemen, dan kembali kerja keesokan harinya. Saya tak ingin rutinitas, saya ingin petualangan!

Saya ingin petualangan ! [sumber]
Berkemah di bawah bintang [sumber]

Saya ingin hidup sebagai petualang, pergi ke berbagai tempat, bertemu dengan banyak orang, melihat berbagai budaya, mendengar berbagai cerita. Saya ingin berlayar dengan kapal pinisi, membelah khatulistiwa, menantang ombak raksasa untuk menggapai pulau-pulau terpencil. Saya ingin terjebak dalam gerbong-gerbong kereta lusuh, memotret kenyataan hidup, dan mendengar kisah-kisah getir penumpangnya. Saya ingin menyelam di lautan, meliuk-liuk bersama ikan-ikan yang menari di sela-sela karang. Saya ingin menapaki punggung-punggung gunung, melawan lelah dan dingin yang mengepung hingga puncaknya. Saya ingin naik ke atas punggung gajah, menelusuri bibir-bibir sungai di lebatnya hutan hujan. Saya ingin petualangan!

Petualangan adalah hal yang seksi. [sumber]

Ayo bertualang! [sumber]

Inilah hidup yang ingin saya jalani. [sumber]

Saya ingin mengecap getirnya kehidupan. Mengajarkan tambah, kurang, kali, dan bagi kepada anak-anak dipelosok negeri. Saya ingin ikut menjaring ikan bersama para nelayan-nelayan kompresor di perkampungan bajo. Saya ingin ikut memotong bambu, mengikatnya membentuk rangka rumah-rumah di pelosok Waerebo. Saya ingin memacu perahu panjang, membelah nadi-nadi sungai di Borneo untuk tinggal bersama suku Dayak Iban. Saya ingin menempuh ribuan kilometer untuk menari dan membuat sagu bersama Suku Asmat di lembah Baliem yang damai.

Ah, betapa saya mendambakan hidup seperti itu.

Saya ingin petualangan! [sumber]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar