04 Maret 2012

Di Rumahku, Indonesia

Di Homs, rentetan peluru berdesing mengusik malam. Suara martir menggelegar membelah gedung-gedung yang berdiri kokoh. Kawat-kawat berduri melintang di pinggiran kota. Mayat-mayat bergelimpangan. Isak tangis sendu membayang dari balik puing-puing kota.

Peperangan di Homs, Suriah [sumber]

Di Mogadishu, ratusan mobil berduyun merayap dalam satu barisan. Boks-boks makanan, galon-galon air, televisi, radio, lemari-lemari kayu, gulungan kasur menyesaki atap mobil-mobil itu. Ribuan orang mengungsi. Sementara di pinggiran kota, selongsong-selongsong peluru berserakan bercampur merah darah.


Para pengungsi di Mogadishu, Somalia [sumber]

Di Athena, sebaris warga tampak kuyu berderet, memelas untuk sepotong roti gandum. Gedung-gedung perkantoran dilumat api. Kaca-kacanya pecah dilempari mantan pegawainya sendiri. Meja makan di rumah-rumah warga kini kosong tak berisi, tak ada lagi jamuan khas para dewa.

Kerusuhan di Athena, Yunani [sumber]

Di Indiana, sebuah kota porak poranda diterjang tornado. Rumah-rumah, toko-toko, gedung-gedung sekolah, perkantoran, semuannya luluh lantak diamuk badai. Tak ada yang tersisa, hanya puing-puing reruntuhan yang terserak bersama kesedihan.

Puing reruntuhan di Indiana, Amerika Serikat [sumber]

Di Indonesia, di rumahku, aku masih bisa tertidur pulas tanpa teror dari peluru. Aku masih bisa makan sepuasnya tanpa harus dihantui kelaparan. Aku masih bisa bermain tanpa harus menyandang senjata. Di rumahku, Di Indonesia, ada kebahagiaan yang tak mungkin terhitung untuk kusyukuri.

Anak-anak bermain riang di Gili Trawangan, Lombok, Indonesia [sumber]

2 komentar:

  1. masih bersyukur aja dengan kondisi di Indonesia yang masih lebih baik dari negara" di luar negeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, saya sangat bersyukur bisa tinggal dan hidup di negara ini. Suka heran aja sama mereka yang skeptis sama negara ini.

      Hapus