12 Maret 2012

Berhenti dari Pekerjaanmu dan Jelajahilah Dunia!

Kau melihat album foto teman-temanmu yang tengah asyik berlayar di Phuket, Goa, atau Barra de Navidad. Kau mengutuk mereka sebagai orang-orang yang menghindari pekerjaan, orang-orang yang menolak modernitas. Mereka tampak selalu bersenang-senang dan tidak ada satupun yang mereka kerjakan.

Berenang di beningnya air danau Kayangan, Filipina [sumber]

Sementara kau duduk di depan meja kerjamu, sambil memakan roti lapis yang kau beli dari kantin. Kau mengunyah daging sapi diantara tumpukan rotimu, rasanya seperti daging yang telah dibekukan berminggu-minggu di dalam kulkas. Kau membenci rutinitas seperti ini: makan siang di depan layar komputer sambil membayangkan dirimu tengah berada di tempat lain. Setelah berbulan-bulan penuh kecemburuan, akhirnya kamu memutuskan untuk ikut terjun ke dalam dunia para petualang.

***
Benci Pekerjaanmu

Setelah beberapa minggu akhirnya kau melupakan rencana perjalananmu. Atasanmu pun mempromosikan dirimu. Namun tidak ada kenaikan gaji, hanya saja jabatan yang lebih baik, tanggung jawab yang lebih besar. Karirmu seolah akan menjadi semakin baik. Kala waktu senggang kau memberitahu atasan, kalau kau benar-benar menikmati pekerjaanmu saat ini. Sampai akhirnya perusahaan memahami potensi besar yang ada pada dirimu. Namun segera kau menyadari kalau semua tanggung jawab itu tidak sebanding. Kau harus mengatur sejumlah tim kecil dalam perusahaan, kau harus bekerja beberapa jam lebih lama, waktumu untuk menikmati roti lapis di depan komputer pun berkurang. Semua tetap sama. Tidak ada yang berubah. Kau ingin keluar dari pekerjaanmu dan memesan sebuah tiket penerbangan, namun semua itu tampak terlalu berlebihan dan merepotkan.

Seharian kau membayangkan dirimu berada di termpat lain [sumber]

Beragam pertanyaan membayang dalam benakmu setiap malam, mengganggu tidurmu: apa yang akan dikatakan oleh keluargamu? Apa yang akan kau lakukan dengan semua yang telah kau miliki? Bisakah kau kembali bekerja lagi nanti? Apakah semua ini akan mempengaruhi rekam jejakmu? Haruskah kau membatalkan semua program dari biro jodohmu? Hingga dalam tidurmu, kau mendapatkan mimpi yang mencerahkan segalanya: tidak ada pilihan bagi kehidupan yang ingin kau jalani. Kau harus loncat dari jenjang karir yang kau jalani. Dan dengan sedikit perencanaan, semua itu akan menjadi lebih mudah.

***
Mengatur Jadwal

Dalam mimpimu kau berjalan kehadapan atasanmu, atasan otoriter yang tak pernah menghargai kerja kerasmu, dan kau berteriak "Aku muak dengan semua ini! Aku keluar!" Kau membayakangkan dirimu menghimpun kata-kata tersebut dan memuntahkannya menjadi kalimat yang menggelegar. Kau membayangkannya, betapa leganya dirimu setelah mengatakannya. Namun bayangan dilempar gelas atau diseret satpam membuatmu memikirkan kembali kata-kata tersebut, kau tentu lebih memilih untuk berteman dengan para satpam. Kau pun menyadari bahwa akan lebih baik jika kau tidak secara spontan meninggalkan pekerjaanmu. Kau pun merencanakan semuanya: membeli panduan perjalanan, mencari tahu seluk-beluk tujuanmu, serta mengatur jadwal perjalananmu.

Persiapkan segalanya. [sumber]

***
3 Bulan sebelumnya: menabung

Kau memberikan waktu kepada dirimu untuk mengatur strategi dan mengumpulan uang. Semua ini akan membuat perjalananmu menjadi lebih mudah. Kau mendisiplinkan dirimu. Kau menyimpan setiap lembar rupiah yang biasa kau habiskan untuk segelas kopi di kafe, kau sadar kalau segelas kopi tersebut sebanding dengan akomodasi semalam di Chiang Mai. Kau pun kini jarang pergi keluar.

Kau pun kini hanya sesekali meminum soda dan bersenang-senang, sambil membaca buku panduan perjalanan: South East Asia on a Shoestring. Setiap kali kau terbangun, kau merasa sangat berat menjalani semua ini. Terkadang kau memilih untuk seharian tinggal di rumah sembari membaca berbagai artikel perjalanan. Tapi kau pun yakin kalau hari-hari yang berat ini akan terakumulasi dan segera diganjar oleh sejumlah uang tunai.

Buku-buku travel guide bisa menjadi sahabat baikmu [sumber]

Kau melakukan perjalanan untuk mencari 'surga', dan brosur-brosur biro perjalanan menyebutkan bahwa tempat-tempat yang mereka tawarkan adalah 'surga' yang kau cari. Namun kau pun tahu bahwa biro-biro perjalanan itu hanya mengeksploitasi penduduk lokal dan para turis untuk sejumlah besar uang--tidak jauh berbeda dengan perusahaan tempatmu bekerja. Kau pun tahu kalau 'surga' bisa berada dimana saja, 'surga' ada di luar kantormu.

Tidak kah kau tergoda dengan foto ini? [sumber]

*** 
2 Bulan sebelumnya: membeli tiket

Kau pun belajar bahwa membeli tiket beberapa bulan sebelumnya akan menghemat uangmu. Kau memesan tiket penerbangan antar-benua lebih sebagai jaminan. Memegang tiket tersebut berarti sebuah jaminan bahwa kau tak perlu lagi berhadapan dengan pekerjaan yang kau benci itu.

Kau khawatir apabila salah satu temanmu di Facebook secara seenaknya melaporkan keberangkatanmu kepada atasan. Jadi pastikan kau hanya menceritakan rencana perjalananmu ini kepada teman-teman terdekat yang kaupercayai. Kau ragu-ragu untuk meyakinkan beberapa temanmu untuk ikut dalam perjalananmu. Jangan khawatir, kau harus yakin kalau ini adalah perjalanan solomu. Salah satu temanmu yang baru pulang dari Guatemalla pun meyakinkan dirimu bahwa jika kau tinggal di hostel, kau tak akan pernah benar-benar merasa kesepian. 

***
1 Bulan sebelumnya: kosongkan tempat tinggalmu

Kau tahu bahwa 25%-35% persen dari pendapatanmu kau habiskan untuk membayar tempat tinggal. Kau tak mungkin menghabiskan uangmu untuk membayarnya, sementara kau berada di luar negeri dan tidak memiliki pekerjaan.

Kau pun berpikir untuk turut mengikuti jejak para pengembara dunia: menjual semua yang kau punya. Kau pun mencoba menjual semua barang-barangmu. Proses ini sangatlah melelahkan. Kau pun berpikir untuk menyewakan tempat tinggalmu, namun setelah dihitung-hitung sepertinya akan lebih menguntungkan jika kau menjualnya. Hasil penjualan itu pasti akan menggantikan ongkos penerbangan yang telah kau belikan. Kau pun meninggalkan sejumlah furnitur dan pakaianmu kepada sejumlah teman dekat, meski kau tahu kalau barang-barang tersebut mungkin tak akan pernah kau dapatkan kembali. Tapi kau tak peduli.

Kau melakukan semua ini sebelum hari penerbanganmu tiba. Dan kau pun masih mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang kau benci itu. Pendapatanmu pun masuk kedalam rekening bankmu untuk kau gunakan nanti.

Kau pun tidur di atas sofa temanmu. Sekali dua kali kau pun tertidur di atas meja kerjamu. Kau tahu kalau ini hanya untuk sementara, keadaan 'tidak memiliki tempat tinggal' ini akan membiasakan dirimu pada dunia pengembara yang nomaden.

***
Setengah bulan sebelumnya: tinggalkan kantor

Dua minggu sebelum kau keluar kantor, ikutilah prosedur standard untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. Buat semacam surat pengunduran diri bahwa kau akan pergi berlibur. Meski tidak semenggelegar dengan berteriak "Aku muak dengan semua ini!" di hadapan atasanmu, setidaknya surat semacam itu akan meninggalkan kebingungan di wajah atasanmu. "Berhenti bekerja untuk pergi berlibur?" Kau ingin mengatakan bahwa ini bukan liburan, tapi ini adalah sebuah momen monumental dalam hidupmu, tapi kau lebih memilih untuk mengangguk dan tersenyum saja.

Kini kau menghabiskan sisa dua minggu kedepan untuk mem-posting sejumlah rayuan dalam akun Facebook-mu: "Baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih untuk menjelajahi hutan borneo," "Akhirnya saya tak perlu lagi mengisi form evaluasi tahunan," atau "Saya tak memiliki asuransi kerja lagi, tapi setidaknya saya akan bersenang-senang di Bora-Bora!"

Bersampan di Bora-Bora! [sumber]

***
Dan kau benar-benar melakukan perjalanan

Beberapa teman dekatmu datang ke pesta kecil perpisahanmu di sebuah kafe kecil. Wanita yang dahulu sempat kau cintai pun muncul. Kau berbicara dengannya mengenai rencana perjalananmu. Dia pun ternyata baru kembali dari perjalananya keliling dunia. Kau pun mulai menimbang-nimbang keputusanmu, apakah benar atau tidak.

Seorang teman baikmu pun melihat padamu dan entah bagaimana dia bisa membaca apa yang tengah kau pikirkan. Ia pun membisikan seseuatu di telingamu, "Jangan khawatir, wanita-wanita terbaik tengah menunggumu di perjalanan." Kau pun tahu bahwa apa yang ia katakan itu benar, ditambah lagi kau telah membeli tiket non-refundable. Kau pun menikmati malam terakhirmu.

Siap menjelajahi dunia! [sumber]

Siap menjelajahi tempat-tempat baru. [sumber]

Kau duduk menunggu di terminal dengan gairah yang meluap-luap. Semenjak pertama kali masuk sekolah, kau tak pernah merasakan tingkat kegembiraan seperti ini sebelumnya.

Kau tahu bahwa kau akan pergi untuk waktu yang lama. Kau telah melakukan hal yang benar. Kau telah merebut kembali kebebasan yang telah kau jual kepada organisasi penghancur jiwa. Secepatnya kau akan merasa ingin pulang dan bekerja kembali. Namun kau sadar kalau perjalanan ini akan mengambalikan jati dirimu. Kau keluar dari pekerjaanmu untuk melakukan perjalanan karena kau memutuskan untuk mengendalikan hidupmu, dan itulah yang akan kau jalani.

Raih kembali kuasa atas dirimu. [sumber]

Disadur dan digubah seperlunya dari Matadador Network >> How to Quit Your Job and Travel The World oleh Josh Heller

4 komentar:

  1. Mantap !
    pengen ke bora-bora..
    Tapi susah air tawar disana katanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum ke Bora-Bora, mungkin Negeri Saleman di Seram, Maluku bisa dijadikan destinasi pilihan yang tak kalah eksotisnya >> http://travelersgo.blogspot.com/2012/03/negeri-saleman-negeri-penuh-pesona.html

      Hapus
  2. silakan lihat blog saya : wangirumput.blogspot.com,
    alhamdulillah saya baru saja dari sana; Negeri Saleman, Maluku Utara

    BalasHapus
  3. hahahahahasem lagi galau mau resign malah baca beginian...
    racunya makin kuat aja :s

    mantap mas tulisannya :D

    BalasHapus