20 November 2011

Jejak Sejarah di Kota Gudeg

Lelah masih menggelayuti. Sepuluh jam dalam kereta ekonomi benar-benar merontokan setiap persendian tubuhku. Goyah. Sambil memakan roti yang sengaja kubawa dari rumah, kulemparkan tubuhku ke atas kasur kapuk yang lumayan empuk. Dengan mulut menguyah, kutatap lekat-lekat peta kota Jogja. Sengatan semangat tiba-tiba bereaksi pada tubuhku. Sejurus kuterbangun, memasukan peta, roti, air minum, dan dompet ke dalam tas kecil yang kubawa. Siap menjelajahi Jogja!

Yogyakarta, Kota Pelajar yang menjadi salah satu primadona pariwisata di Indonesia ini menawarkan berbagai objek wisata yang kental akan latar belakang sejarahnya. Sisa-sisa pendudukan dan simbol perlawanan terhadap pendudukan Belanda menjadi magnet tersendiri yang dimiliki kota ini.

Saya berjalan keluar penginapan, menyusuri lengangnya Malioboro dipagi hari. Sesekali saya lemparkan senyum kepada pengayuh becak, menolak jasa yang ditawarkannya. Kaki terasa ringan melangkah, seolah lupa akan kesengsaraan selama di kereta ekonomi semalam. Benteng Vredeburg yang menjadi tujuan pertama saya.

Benteng Vredeburg di pagi hari

Benteng Vredeburg terletak di Jalan Ahmad Yani, selepas Jalan Malioboro. Benteng yang dibangun oleh VOC ini dulunya berfungsi sebagai tempat perlindungan dan pusat pemerintahan Belanda. Benteng yang menjulang tinggi dan dikelilingi oleh parit ini memiliki menara di keempat sisinya. Menara ini berfungsi sebagai menara pemantau.

Kala itu saya datang terlalu pagi, Benteng Vredeburg yang kini dialihfungsikan sebagai museum ini pun masih tutup. Saya melanjutkan berjalan ke arah Selatan, bersebelahan dengan Benteng Vredeburg, berdiri Monumen Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949. Di seberang monumen ini pula terdapat Istana Kepresidenan RI yang merupakan peninggalan kolonial Belanda.

Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 ini dibangun untuk memperingati peristiwa sejarah besar pada  1 Maret 1949. Kala itu diadakan serangan besar-besaran terhadap pasukan Belanda yang berada di Yogyakarta. Serangan yang digencarkan TNI ini tidak lain untuk menunjukan eksistensi negara ini kepada dunia. Kota Yogyakarta yang kala itu menjadi ibukota dari republik ini dianggap lokasi yang tepat untuk memancing perhatian masyarakat dunia.

Moumen Serangan Umum 1 Maret 1949

Di sebrang Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 terdapat pula bangunan peninggalan Kolonial Belanda. Gedung Bank Indonesia, gedung kantor POS, serta gedung BNI masih berdiri kokoh meski sudah berusia ratusan tahun. Pada masa kolonial, fungsi dari gedung-gedung ini pun tidak jauh berbeda. Gedung BI difungsikan sebagai bank milik Hindia Belanda. Gedung kantor POS berfungsi sebagai kantor pos dan telegraf. Pun dengan gedung BNI yang dahulu dijadikan kantor asuransi dan bank.

Gedung BI yang merupakan peninggalan Kolonial Belanda

Tak puas mengamati jejak sejarah yang sempat mewarnai kota Jogja, saya pun terus menyusuri jalan-jalan kota ini. Kaki saya melangkah ke Selatan, menelusuri kejayaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar