23 November 2011

Kopi Campur Arang

Suasana Angkringan Lik Man
 Kopi dan dinginnya udara malam memang pasangan yang sangat tepat. Tapi bagaimana jika kopi yang disajikan dicampur dengan arang? Hmmmmmm tunggu dulu.

Kala itu Kota Jogja Mendung seharian, namun hujan masih enggan untuk turun. Udara dingin berhembus, membekukan tubuh saya yang hanya berbalut kaos tipis. Malam menyelimuti kota, namun kehidupan di Malioboro masih terus bergeliat. Jejeran pedagang ala lesehan memadati trotoar sepanjang Jalan Malioboro. Semuanya hampir menawarkan makanan yang sama: nasi gudeg, ayam goreng, lele goreng, burung dara goreng, dan sesekali ditemui soto serta baso.

Dari Malioboro, Saya berjalan terus ke Utara, ke arah Stasiun Tugu. Maksud saya tak lain untuk menyambangi Angkringan Lik Man yang sempat saya tonton di acara TV beberapa hari sebelumnya. Setelah bertanya arah kepada beberapa orang dekat stasiun, rupanya Angkringan Lik Man terletak tepat di sebelah Utara Stasiun.

Di setiap sudut Kota Jogja, mudah sekali untuk menemukan pedagang angkringan. Konon, pendahlu Lik Man inilah yang menjadi pelopornya. Harga makanan dan minuman yang tergolong murah, serta suasana keakraban yang sangat kental, menjadikan angkirngan populer di berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak, tukang ojek, mahasiswa, hingga pegawai kantoran.

Angkringan Lik Man sendiri berjualan dengan menggunakan pikulan, dua buah bakul yang dihubungkan oleh sebuah bambu. Pengunjung bisa duduk dekat pikulan sembari menghangatkan tubuh dengan panggangan arangnya atau lesehan di tikar-tikar yang digelar sepanjang trotoar jalan. Makanan yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari nasi kucing, sate telur, sate kulit, sate usus, ceker ayam, tempe bacem, jedah, hingga kepala ayam. Sedang minumannya ada teh manis, kopi, wedang jahe, wedang ronde, hingga susu.

Ada satu menu unik yang ditawarkan di Angkringan Lik Man ini, kopi joss namanya. Namanya yang unik ini tidak lain berasal dari suara bara arang yang mendesis saat dicelupkan kedalam kopi. Ya, ramuan kopi ini dicampur dengan arang! Konon campuran bongkahan arang ini menurunkan kadar kafein dalam kopi. Rasanya tidak berbeda dengan rasa kopi tubruk yang lainnya, namun keberadaan arang yang mengapung dalam gelas menjadikannya unik.

Aroma khas kopi bercampur arang menguar kala saya mulai mensesap kopi ini. Teguk demi teguk terasa nikmat, kala kopi mengalir menghangatkan kerongkongan. Ditemani nasi kucing berlauk teri dan sate kulit yang gurih, menjadikan makan malam di Angkringan Lik Man terasa sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar