08 November 2011

Jogja: Di Atas KA Kahuripan

Kereta api yang kami gunakan untuk mencapai Jogja bernama: Kahuripan. Kereta Kahuripan ini merupakan kereta kelas ekonomi yang melayani jalur Padalarang sampai Kediri. Harga tiketnya sendiri hanya Rp 24.000,00 (sekarang harga tiketnya pun masih sama). Terbilang sangat murah.

Kereta ekonomi ini berhenti hampir di setiap stasiun kecil, sehingga waktu tempuhnya pun sangatlah lama. Belum lagi kereta ekonomi harus mengalah pada kereta bisnis atau kereta eksekutif yang akan melintas. Kami berangkat dari Stasiun Kiaracondong sekira pukul 8 malam, dan sampai Jogja sekira pukul 7 pagi. Hampir 10 jam!

Di atas Kereta Kahuripan
Ini adalah pengalaman pertama saya naik kereta ekonomi, dan rasanya sungguh tidak terlupakan. Duduk di atas jok kursi yang sangat tipis, sandaran kursi yang tegak, orasi para pedagang yang tiada hentinya, kecoa-kecoa yang bergentayangan, serta asap rokok yang mengepung. Beruntung saya pergi bersama anak-anak Belitung Merantau yang jenaka.

Beragam ekspresi personil Belitung Merantau di atas kereta
Melewatkan malam di atas kereta
Malam di atas kereta terasa sangat panjang. Kami mengalami kesulitan untuk tidur, karena bentuk kursi yang tidak manusiawi serta teriakan para pedagang sepanjang perjalanan. Kami melewatkan malam dengan ngobrol ngalor-ngidul, SMS-an, mendengarkan musik, membaca, bengong, dan main kartu.

Melewatkan malam

Tidak ketinggalan: bermain kartu di kereta!

Perhatikan sesosok penampakan yang terekam kamera saat Oom Ega sedang berpose. Terlihat sesosok yang cukup seronok tergolek di atas bangku kereta. Nyahahaha.

Sosok penampakan yang tertangkap kamera

Berjam-jam di atas kereta akhirnya sukses membuat kami kehilangan akal sehat. Perut yang kelaparan ditambah angin yang menerobos dari jendela kereta yang sulit ditutup membuat saya kalap. Jemari penumpang kereta yang lain hampir akan saya makan.

Memakan jari orang. Jangan ditiru!

Oom Cumi kambuh

Lamat-lamat suara roda-roda kereta yang bergesekan dengan rel mampu menghipnotis kami. Orasi-orasi penjaja makanan dan minuman pun kini lebih terdengar seperti lagu pengantar tidur. Kami pun terlelap.

Oom Firman dan Oom Grady pun terlelap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar