22 November 2011

Ada yang Begituan di Vredeburg

Sore mulai merayapi langit Kota Jogja. Cuaca pun mulai tak bersahabat. Awan mendung kelabu bergelayut di langit-langit kota. Hembus angin dingin menyapu setiap sudut kota. Sebuah peringatan kalau hujan tak lama lagi datang.

Saya bersender duduk di sebuah kursi tak jauh dari benteng Vredeburg. Sambil meluruskan otot-otot kaki yang mengkerut, saya melahap lembaran demi lembaran roti tanpa selai. Puas memanjakan kaki dan perut, saya pun beranjak menuju Benteng Vredeburg.

Tempat parkirnya lengang, sudah tidak ada lagi bis-bis yang kerap mengangkut siswa-siswi berkaryawisata. Hari sudah menjelang petang, tidak ada lagi keramaian di Benteng Vredeburg. Gerbang benteng yang tinggi menjulang, nampak kokoh menyambut kedatangan saya. Di loket dekat gerbang masuk, seorang petugas tengah asyik memijit-mijit tombol HP-nya. Lunas membayar tiket seharga 750 rupiah padanya, saya dipersilakan masuk ke dalam area benteng.

Gerbang masuk Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg ini dahulu dibangun oleh serikat dagang Belanda, VOC. Bangunan ini difungsikan sebagai benteng pertahanan dan pusat pemerintahan kolonial Belanda. Sri Sultan mengizinkan pembangunan benteng ini karena Belanda beralasan bahwa benteng ini dibangun untuk membantu menjaga ketertiban kota. Padahal maksud dari Belanda adalah tak lain untuk mengawasi gerak-gerik Kraton dari dekat. Meriam yang berada di benteng ini pun di arahkan tepat ke Kraton.

Di dalam benteng yang telah dialigfungsikan sebagai museum ini saya mendapati taman yang indah. Rerumputan dan pepohonan tampak tertata dengan rapi. Beberapa meriam juga tampak menghiasi taman ini.

Taman di tengah benteng

Tak banyak pengunjung sore itu, tak lebih dari sepuluh orang. Saya pun menyusuri benteng ini, masuk ke dalam ruangan diorama yang tengah direnovasi. Di dalam ruang diorama hanya ada saya dan sepasang pengunjung wanita. Di dalam ruangan yang temaram ini ditampilkan diorama-diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Mulai dari diorama masa kerajaan hingga diorama perebutan Irian dari tangan Belanda.

Diorama di Museum Benteng Vredeburg

Diorama di Museum Benteng Vredeburg

Saat itu saya tidak memiliki kekhawatiran apapun. Saya susuri setiap diorama, meninggalkan sepasang pengunjung wanita yang asyik berfoto di dekat pintu masuk. Semakin ke dalam semakin gelap, saya tetap asyik membaca setiap keterangan pada diorama.

Di ujung ruangan, tidak jauh dari pajangan koleksi senjata museum, terdapat pintu yang terbuka. Ada tulisan 'Dilarang Masuk Kecuali Petugas' pada pintu itu. Saya pun berniat untuk melongok melihat dari balik pintu. Namun saat kaki saya baru melangkah, pintu tersebut tertutup dengan kerasnya. Braaaaak! Mungkin tidak aneh jika itu adalah pintu kayu biasa, namun pintu di sana adalah pintu yang sering kita temui di mini market. Pintu yang sekali terbuka lebar, maka akan terus terbuka, yang membutuhkan dorongan untuk menutupnya kembali.

Saya tidak merasakan firasat apa-apa pada awalnya. Tak lama kemudian, serentak bulu-bulu di tengkuk tiba-tiba berdiri. Badan saya terasa seperti menggigil. Sontak saya berjalan kembali menuju sepasang wanita yang masih juga berfoto ria dan keluar dari ruang diorama. Ini adalah kali pertama saya mengalami peristiwa semacam ini. Saya pun duduk di taman menenangkan diri sambil mengamati seorang anak kecil yang tengah bermain. Langit semakin kelabu, angin semakin kencang, tak lama lagi Jogja hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar